Kurikulum 2013 yang dibuat pemerintah menuai banyak kontra, kurangnya sosialisasi, dan tidak melibatkan guru menjadi pemicunya, mari kita simak dalam jejak rekam dibawah ini!
Simak video berikut ini!
Bismillah, Saya Menolak Kurikulum 2013
Setelah membaca dokumen kurikulum 2013, mengikuti seminar sosialisasinya di kampus UNJ, dan merenung sedalam-dalamnya, maka saya ucapkan, “Bismillah“, dan memberanikan diri untuk menolak kurikulum 2013. Mengapa saya sebagai seorang guru berani menolak kurikulum baru? Sebab kurikulum baru
itu tidak menjawab permasalahan pendidikan yang ada di bumi Indonesia.
Baik dari sisi ilmiah maupun alamiah, kurikulum ini harus disempurnakan
dulu. Kalaupun dipaksakan kurikulum ini baru akan siap di 2014, dan
bukan di 2013. Kurikulum itu memang penting, tapi kesiapan guru jauh
lebih penting. Pemerintah berkewajiban melatih guru lebih dulu. Anda
boleh tak setuju dengan saya, dan boleh juga sepakat. Mari kita
beragumentasi dengan akal sehat.
Rendahnya Kualitas Guru
Masalah rendahnya kualitas guru,
seharusnya bukan dijawab dengan pergantian kurikulum baru. Semestinya
pemerintah menjawabnya dengan pelatihan-pelatihan guru
yang mampu meningkatkan kualitas guru. Pendidik kita banyak yang belum
mengikuti pelatihan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Bahkan ada
guru PNS di daerah yang sudah puluhan tahun belum mendapatkan pelatihan
guru dari pemerintah. Itulah fakta yang dapat dilihat dengan kasat mata,
tanpa harus melakukan penelitian.
Rendahnya nilai anak-anak Indonesia
berdasarkan hasil penelitian TIMSS 2011 dan PISA secara internasional
belum bisa dijadikan alasan untuk pergantian kurikulum. Sebab rendahnya
nilai itu, karena kita belum memiliki guru-guru yang berkualitas. Kalau saja pemerintah fokus dalam pelatihan guru,
niscaya nilai-nilai itu akan terangkat dengan sendirinya. Sebab pada
dasarnya, anak Indonesia adalah anak-anak yang cerdas. Perlu guru yang
cerdas pula untuk mengajari mereka. Cara mengajar guru itu kunci perubahannya.
Mungkin kita ingat. Sudah tidak terhitung banyaknya anak didik Prof. Yohanes Surya yang dimanage
secara baik dengan konsep dan juga sistem yang sangat mendukung,
berhasil membawa nama harum bangsa Indonesia di kancah Internasional.
Kita tentu maklum kurikulum sudah seringkali berubah,
namun ternyata tidak memecahkan masalah. Mengapa kita tak pernah
belajar dari sejarah? Selalu melakukan hal yang sama, dan terperosok
dalam lubang yang sama? Kasihan para peserta didik kita. Mereka hanya
menjadi kelinci percobaan kaum penguasa. Mereka dijadikan “trial and error” dari sebuah penelitian kebijakan yang berbasis “proyek”.
Pantas saja pendidikan menjadi mahal di negeri ini. Si miskin menjadi
sulit mendapatkan pendidikan yang baik. Rusak Sudah Bangsa Ini (RSBI)
seperti yang pernah dituliskan Yudhistira ANM Massardi. Kita kurang pandai membentuk Rintisan Sekolah Berkarakter Indonesia
(RSBI) yang benar-benar RSBI. Sekolah laskar pelangi sudah mulai hilang
dari sekolah-sekolah kita. Apalagi sekolah macam negeri 5 menara dengan
mottonya yang terkenal, manjadda wajada.
Pak Mendikbud Muhammad Nuh selalu bilang di media, “di Kurikulum baru, guru tak perlu lagi bikin silabus”.
Sungguh sebuah pembodohan yang terstrukturisasi. Guru hanya diminta
untuk menjadi makhluk penurut dan memenuhi keinginan sang penguasa. Guru
tak menjadi lagi orang yang merdeka, dan memiliki
kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Guru tak lagi menjadi seperti
mata air yang selalu menghapus dahaga peserta didiknya akan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Guru hanya sekedar menjadi “tukang”, dan bukan lagi arsitek pembelajaran.
Lebih celaka lagi matpel TIK, dan beberapa pelajaran lainnya yang
disukai siswa justru dihapuskan dalam struktur kurikulum 2013. Padahal
peserta didik sangat senang sekali pelajaran TIK, tapi menurut pejabat
tim pengembang kurikulum, mata pelajaran ini akan diintegrasikan ke
dalam semua mata pelajaran. Tak jelas bentuk pelatihannya, dan katanya
sedang dipikirkan. Bagaimana mungkin sebuah kebijakan dikeluarkan
sementara masih dipikirkan? Ini menandakan bahwa pemerintah masih belum
siap dengan penerapan kurikulum baru.
Tolak Kurikulum 2013
Kini saatnya guru bersatu untuk menolak
kurikulum baru. Jangan mau lagi guru dibodohi oleh sang penguasa. Kita
harus mampu berpikir kritis, dan bukan hanya memikirkan diri sendiri.
Nasib bangsa ini terletak di tangan guru. Bila gurunya kritis, dan mampu
berpikir jernih, maka sang penguasa tak akan mampu berbuat apa-apa.
Demokrasi terletak ditangan rakyat, dan pendidikan yang baik terletak di
tangan guru tangguh berhati cahaya.
Mengapa guru harus menolak kurikulum 2013? Sebab kurikulum ini syarat dengan kepentingan politik.
Kurikulum itu tak lagi bernuansa akademik dan terlalu dipaksakan
penerapanannya. Padahal kalau mau jujur, kurikulum ini belum tentu mampu
menjawab persoalan pendidikan yang ada saat ini. Guru-guru justru malah
dibuat bingung dengan kurikulum baru. Seminar dan bedah kurikulum 2013
digelar di berbagai tempat, namun hasilnya belum cukup memuaskan semua
pihak. Bila anda ingin melihat dokumennya, silahkan diunduh di facebook group Ikatan Guru Indonesia (IGI). Draft Kurikulum 2013 pun ditelanjangi di sana-sini.
Sementara itu, dari sisi akademik,
kurikulum ini belum sepenuhnya dikaji secara ilmiah. Masih banyak dosen
atau guru besar di perguruan tinggi yang menanyakan kajian ilmiahnya.
Kompetensi Inti dan Kompetensi dasarnya masih bermasalah, termasuk juga
indikatornya. Kesannya, kurikulum ini hanya menggunakan pendekatan
kekuasaan saja, dan bukan lagi pendekatan akademik.
Berbagai dokumen penting kurikulum sengaja tak dilempar ke publik, sebab
mereka takut mendapatkan kritik. Guru dipaksa untuk siap menerima
kurikulum yang belum siap implementasinya di lapangan.
Kurikulum 2013 ditelanjangi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sebuah perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Banyak pakar pendidikan
bicara, dan pemerintah seperti tuli. Tak mau mendengarkan, dan terlalu
memaksakan kehendaknya sendiri. Selama ini begitu banyak masukan dan
pertimbangan dari para kritisi, praktisi di lapangan, kaum cendekiawan,
dan akademisi menyikapi permasalahan bangsa ini, selalu saja mentok
ketika berhadapan dengan politik pengambil kebijakan. Setiap solusi dan
terobosan yang bisa terasa langsung di lapangan hampir tak pernah mulus
terterima atau bisa diimplementasikan sesegera gagasan itu muncul. Kita
menjadi geram dibuatnya.
Pemerintah terlalu yakin kurikulum 2013
adalah obat yang sangat mujarab untuk menyembuhkan penyakit pendidikan
kita. Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang
pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004,
tetapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera
mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Itulah
kalimat yang dituliskan pak Nuh dalam artikelnya di Kompas. Lalu
pertanyaannya, ada apa dengan KBK? Apakah nantinya kurikulum 2013 akan bernasib sama ketika rezim SBY berakhir?
Saran saya, karena banyaknya penolakan pemberlakuan kurikulum 2013, sebaiknya kurikulum ini ditunda dulu pelaksanaannya.
Dari sisi persiapannya saja, masih terlihat tergesa-gesa. Meski
pemerintah selalu membantahnya di media, kita bisa melihatnya dari
sosialisasi kurikulum 2013. Ingatlah pesan orang bijak! Sesuatu yang
tergesa-gesa itu akan berdampak buruk. “al ajalatu minassyaithon”,
tergesa-gesa itu sebagian dari kebiasaan syetan. Pikirkanlah yang
matang dan mari kita terima masukan dan kritikan dengan lapang dada.
Dialog tentang kurikulum baru harus terus dilakukan di berbagai tempat.
Uji publik yang
dilakukan oleh pemerintah seharusnya dapat menjawab kegalauan para guru.
Namun sayang, uji publik yang digelar itu, hanya mampu dipahami oleh
pemerintah sendiri, dan belum dipahami sepenuhnya oleh para guru di
sekolah. Lagi-lagi guru hanya sebagai obyek penderita saja. Kapan ya guru menjadi subyek?
Guru akan menjadi subjek seharusnya bisa setiap saat, jika ia kreatif
mengubah kurikulum di depan murid, menjadi segar dan enak untuk dilahap
murid atau peserta didik. Guru sebagai penentu di kelas, dan tentu saja
tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Guru profesional selalu
melihatnya dari sisi akademik, dan bukan politik. Guru yang profesional,
pasti akan memperbaiki cara mengajarnya setiap hari kepada peserta
didiknya.
Guru Harus Bersatu.
Wahai para guru Indonesia, bersatulah
untuk menolak kurikulum baru. Kita tolak kurikulum 2013 bukan karena
kita tak ingin menjadi bangsa yang maju. Tapi kita ingin pemerintah melatih terlebih dahulu guru-guru, menjadi tenaga profesional yang mampu memperbaiki cara mengajarnya. Guru harus berubah, tapi perubahan itu tak harus dengan mengganti kurikulum baru yang mengeluarkan biaya sampai Rp. 2, 49 Trilyun. Lebih baik uang itu digunakan untuk pelatihan dan peningkatan mutu guru di seluruh Indonesia. Kualitas guru kita masih harus ditingkatkan.
Dalam SMS sosialisasi kurikulum 2013
dituliskan, anggaran melekat artinya ada atau tidak ada kurikulum 2013
anggaran itu tiap tahun diusulkan dalam anggaran rutin kemendikbud.
Anggaran melekat sebesar Rp. 1,74 Trilyun terdiri atas APBN kemdikbud Rp. 991,8 Miliar dan DAK sebesar Rp. 748, 5 Miliar. Anggaran langsung artinya anggaran murni yang diusulkan dan didedikasikan karena adanya kurikulum 2013. Anggaran langsung Rp. 751, 4 Miliar
untuk persiapan dokumen, penulisan, dan pembuatan buku, uji publik, dan
sosialisasi, pengadaan buku, dan pelatihan guru. Besarnya anggaran
karena jangkauan dan jumlah sasaran yang hendak diberikan pelayanan
terhadap kurikulum 2013 begitu besar.
Membaca serentetan SMS sosialisasi
kurikulum di atas itu, saya dibuat geleng-geleng kepala, dan berharap
anggota DPR tak serta merta menyetujuinya. Sebab jajaran kemdikbud belum
fokus terhadap dana yang ada, namun sudah membuat anggaran baru lagi
yang belum jelas manfaatnya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Dari
sisi akademik maupun ilmiah, para pakar pendidikan bisa melakukan debat
publik, bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 sebaiknya ditunda.
Kita tentu masih ingat buku sekolah elektronik atau BSE.
Buku BSE itu sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, dan
pemerintah telah membeli buku itu dari penulisnya. Kitapun masih ingat
bahwa ratusan buku pengayaan yang dituliskan oleh para
pemenang naskah buku pengayaan kemendikbud sampai saat ini belum juga
diterbitkan. Tak jelas kenapa belum diterbitkan. Kami yang menjadi salah
satu pemenangnya jelas saja kecewa. Kini pemerintah akan membuat buku
untuk mendukung kurikulum baru, bukankah ini pemborosan biaya?
Kalau mau jujur, kurikulum 2013 bukanlah
jawaban dari peningkatan kinerja pendidikan melalui kurikulum, guru,
dan lama tinggal di sekolah. SMS yang menyesatkan dari sosialisasi
kurikulum 2013 ini jelas dibuat untuk mempengaruhi pola berpikir publik
agar tidak kritis dengan kekurangan kurikulum 2013. Anggaran dana
sebesar Rp. 2,49 Trilyun untuk kurikulum 2013 terdiri
atas anggaran melekat dan anggaran langsung cuma akal-akalan pemerintah
agar dana ini dapat dicairkan dengan dalih pendidikan kunci pembangunan yang pernah dituliskan pak Wapres Budiono di koran Kompas beberapa waktu lalu.
Solusi terbaik bangsa ini adalah menolak
dengan tegas kurikulum 2013. Biarkan kurikulum lama dievaluasi lebih
dulu. Mari kita melihat kelemahan dan kelebihannya. Lalu kemudian
lakukan uji publik. Jangan hanya sepihak saja mengatakan bahwa kurikulum
2006 atau KTSP tidak bagus dan harus diganti. Segala sesuatu itu harus
dilakukan dengan cara yang benar dan penelitian yang tingkat
validitasnya tak diragukan. Transparansi atau keterbukaan harus
dikedepankan demi menjunjung nilai kejujuran dan sikap demokratis.
Sehingga tak ada omongan lagi, “ganti menteri, ganti kurikulum.”
Mari kita ucapkan “Bismillah”
bersama-sama. Yakinlah dan percaya bahwa kurikulum 2013 belum
sepenuhnya memecahkan masalah pendidikan. Tetaplah percaya bahwa
perubahan itu pasti terjadi. Namun percayalah, perubahan itu bukan harus merubah kurikulum. Perubahan itu seharusnya memperbaiki cara mengajar guru
agar mampu menjadi guru yang berkualitas. Guru yang mampu melakukan
pembelajaran yang mengundang sehingga siswa asyik dan menyenangkan. Guru
yang mampu menjadi mata air bagi peserta didiknya dari kehausan akan
ilmu pengetahuan. Guru yang mampu memberikan keteladanan sehingga ikut
meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didiknya. Ingatlah selalu, “Guru yang berkualitas akan melahirkan peserta didik yang berkualitas pula.”
Sejumlah
Guru yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Pendidikan melakukan aksi
teatrikal menolak kurikulum 2013 dan hapus Ujian Nasional (UN) di depan
Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/3). Dalam aksi tersebut mereka
meminta Kemendikbud menghentikan proses sosialisasi dan semua proses
turunan Kurikulum 2013. (FOTO ANTARA/Reno Esnir)
Alasan Panja Menolak Kurikulum 2013
Rohmani. Foto: JurnalParlemen/Andri Nurdriansyah
"Nanti, dalam rapat kerja bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pekan depan, sikap ini akan disampaikan.
Senayan - Panja
Kurikulum Komisi X DPR telah resmi menolak pemberlakuan Kurikulum 2013
yang diusulkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun,
penolakan belum disampaikan kepada pleno di Komisi X.Menurut anggota Panja Kurikulum dari F-PKS Rohmani, selain menolak pemberlakuan, panja juga meminta agar anggaran Kurikulum 2013 sebesar Rp 171 miliar tidak disetujui. "Nanti, dalam rapat kerja bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pekan depan, sikap ini akan disampaikan," jelas Rohmani kepada jurnalparlemen.com, Kamis (6/12).
Menurut Rohmani, alasan penolakan Panja terhadap Kurikulum 2013 bukan karena tidak menginginkan adanya perubahan kurikulum, namun karena Kemendikbud tidak mempersiapkannya dengan matang. "Hasil riset tidak jelas, tidak ada uji publik dan tidak ada sosialisasi kepada masyarakat," katanya.
Bahkan, usulan perubahan Kurikulum 2013 disampaikan pada pertengahan 2012. Menurut Rohmani, sebagian anggota Komisi X bahkan tidak tahu bakal ada perubahan kurikulum. Meski, usulan Kurikulum 2013 terbilang radikal sebab berlandaskan pada pengajaran tematik. "Namun setiap guru perlu disiapkan dengan matang dan tidak mendadak," tambahnya.
Menurut anggota DPR Dapil Jawa Tengah IX ini, mempersiapkan kurikulum tidak bisa instan namun harus melihat perkembangan situasi di masa depan. Kurikulum pada tahun 2020 misalnya, bisa dipersiapkan dari sekarang. Walaupun, dalam penyusunan kurikulum tidak ada aturan baku berapa lama akan mengalami perubahan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana mengembangkan Kurikulum 2013, yang merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Di samping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan.
Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
sumber
Mendikbud: Tak Masalah Ada Fraksi Menolak Kurikulum 2013
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), M Nuh menyatakan tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, terkait perubahan anggaran kurikulum 2013 menjadi Rp829 miliar, yang telah disetujui oleh DPR hari Senin (27/05/2013) kemarin.
Hal tersebut dikatakan oleh M Nuh dalam menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh sejumlah anggota Komisi X DPR, yang tetap menyatakan penolakan terhadap perubahan anggaran kurikulum 2013 yang diajukan oleh Kemendikbud.
"DPR itu dalam mengambil keputusan bisa musyawarah mufakat, bisa voting. Saat pandangan mini fraksi, fraksi diberi kesempatan untuk memberikan pandangan. Itu kan bagian dari pengambilan keputusan. Ada yang setuju dan tidak setuju," kata M Nuh di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (30/05/2013).
M Nuh pun menegaskan, keputusan DPR yang pada akhirnya menyetujui perubahan anggaran kurikulum 2013 itu sudah sah. Sehingga dengan demikian, implementasi kurikulum 2013 tetap akan dilaksanakan pada pertengahan Juli mendatang.
"Kan ada fraksi yang setuju, ada yang setuju dengan catatan, ada yang setuju dalam konteks uji coba, dan lain-lain. Tapi pengambilan keputusan (yang dilakukan Komisi X) itu sah. Oleh karena itu saya mengatakan, urusan kurikulum tidak ada masalah, meski ada yang keberatan," kata M Nuh.
Yang jelas, lanjut M Nuh, di dalam kurikulum 2013 yang anggarannya baru disetujui oleh DPR untuk dirubah tersebut, nantinya akan mengedepankan kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan terutama sikap yang akan diajarkan kepada para siswa.
"Kita perkuat agama dan budi pekerti. Yang dulu kita banyak usul, kenapa tidak diajar budi pekerti biar anak-anak santun. Kemudian komunikasi sosial lebih bagus. PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) kita kembangkan, sehingga lebih efektif menjadi warga negara," terangnya.
Sebelumnya, meski muncul penolakan dari tiga fraksi yang berada di Komisi X DPR RI, sebanyak enam fraksi yang ada menyatakan persetujuannya terhadap perubahan anggaran kurikulum 2013 menjadi Rp829 miliar.
Hal itu diputuskan dalam rapat kerja (Raker) Komisi X dengan Kemendikbud pada hari Senin (27/5) kemarin.
Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Fraksi Partai Gerindra menyatakan setuju implementasi Kurikulum 2013. Fraksi Partai Golkar, Fraksi PDI-P, dan Fraksi Partai Hanura setuju dengan catatan, sedangkan Fraksi Partai Amanat Nasional setuju untuk dilakukan uji coba.
Sementara Fraksi Partai Persatuan Pembangunan meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013, sedangkan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera belum menyetujui dan menyatakan meminta penundaan setelah Juli 2014.
Ketua Komisi X DPR, Agus Hermanto mengatakan, berdasarkan pandangan fraksi yang disampaikan maka perubahan anggaran yang diajukan oleh Kemendikbud, yang ditujukan untuk penerapan Kurikulum 2013 tersebut disetujui. Sementara untuk masalah lainnya akan kembali dibahas lebih lanjut.
Oleh: Luki Junizar - Editor: Masruroh
sumber
Mendikbud: Tak Ada yang Menolak Kurikulum 2013
[JAKARTA] Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan tdak ada satu orang pun yang secara tegas menyatakan menolak kurikulum 2013 selama uji publik dilaksanakan melalui saluran daring (online).
"Secara keseluruhan dari kurikulumnya sendiri tidak ada penolakan secara tegas dari landasan pemikiran, struktur kurikulum, penambahan jam pelajaran, standar penilaian, dan implementasi. Sampai dengan tanggal 5 Desember sekitar 5.118 orang mengakses uji publik kurikulum 2013 di portal Kemdikbud dan sebanyak 765 orang yang memberikan komentar," kata Mohammad Nuh dalam jumpa pers dengan wartawan di Jakarta, Kamis.
Namun, kata dia, kesiapan implementasi kurikulum 2013 yang seringkali dipertanyakan oleh masyarakat.
"Terkait dengan persiapan ada tiga hal yang kita lakukan yaitu buku, guru dan tata kelola administrasi," ucapnya.
Pertama, yang paling mendasar yaitu buku. Buku pegangan guru dan murid dipersiapkan secara matang oleh tim khusus dari segi materi secara keseluruhan.
"Karena kalau kita melakukan pelatihan dan guru belum mendapatkan buku pegangan proses itu akan menjadi masalah, sehingga buku pegangan guru dan murid dipersiapkan dengan matang," ujar mantan Rektor ITS Surabaya tersebut.
Ia juga mengantisipasi apabila nantinya ada perubahan dalam buku pegangan tersebut.
"Kita sangat paham yang berubah mana saja, misalnya Matematika yang itu sudah diperkirakan dari masukan diskusi. Tapi yang paling banyak perubahan mungkin metodologinya, sehingga diperbaiki serta Standar Kompetensi Lulusan (SKL)," tuturnya.
Setelah SKL sudah tersusun dengan baik, kata dia, maka standar isi dan model dipersiapkan dengan melibatkan guru maupun ahli untuk merumuskannya.
Persiapan kedua, yaitu guru akan diberikan pelatihan komprehensif yang ada di seluruh Indonesia untuk mengenal kurikulum 2013, agar implementasi di lapangan kepada anak didiknya dapat berjalan dengan lancar.
"Kita berkewajiban mencari guru yang mana yang harus didahulukan. Pelatihan akan dilakukan secara bertahap dari sisi jenjang pendidikannya atau kelasnya dan bertahap dari sisi kewilayahannya atau sekolahnya," paparnya.
Oleh karena itu, tidak semua guru yang jumlahnya sekitar 2,9 juta diberikan pelatihan, misalnya saja guru SD sekitar 1,6 juta. Kalau dihitung hanya kelas 1 dan 4 maka hanya 500 ribu tanpa guru agama. Jadi jumlahnya sekitar 300 ribu.
"Kita bentuk master dari guru-guru teladan, setelah selesai langsung terjun ke bawah. Sistimnya itu seperti MLM," kata dia.
Hal ketiga, administrasi maupun tata kelola juga dipersiapkan dari raport, pembagian mengajar, beban jam pembelajaran, dan lain-lain.
"Jadi tidak hanya buku dan guru yang dipersiapkan, tapi administrasi/tata kelola karena merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan di tingkat pendidikan," tukasnya. [Ant/L-9]
sumber
Kenapa Pelajaran TIK Dihapuskan dalam Kurikulum 2013? Ini Jawabannya!
Tulisan menarik guru KKPI, bapak Sozo Himamura yang saya dapatkan dari Group facebook IGI:
Beberapa alasan yang terungkap mengapa
TIK/KKPI hilang dari Kurikulum 2013 ketika dialog dengan Wakil Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (WAMEN) bidang Pendidikan dan Perwakilan
PUSKUR (Pusat Kurikulum dan Perbukuan) diantaranya :
- “Anak TK dan SD saja sudah bisa internetan…”
- TIK / KKPI bisa integratif (terintegrasi) dengan mata pelajaran lain
- Pembelajaran sudah seharusnya berbasis TIK (alat bantu guru dalam mengajar), bukan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran khusus yang harus diajarkan
- Jika TIK/KKPI masuk struktur kurikulum nasional maka pemerintah berkewajiban menyediakan Laboratorium Komputer untuk seluruh sekolah di Indonesia, dan pemerintah tidak sanggup untuk mengadakannya
- Banyak sekolah yang belum teraliri LISTRIK, jadi TIK/KKPI tidak akan bisa diajarkan juga disekolah
Secara
normatif alasan-alasan tersebut bisa saja diterima, namun tahukah anda
dialog yang terjadi diluar forum resmi tersebut, semua alasan tersebut
dapat terbantahkan oleh teman-teman dalam dialog “liar” yang diadakan
setelah selesai kegiatan tersebut.
Jika alasannya karena “Anak TK / SD
sudah bisa main game dikomputer dan berinternet ria”, maka jika ada yang
berpendapat Anak TK/SD pun sudah bisa berbahasa Indonesia karena mereka
adalah orang Indonesia, jadi tidak perlu lagi ada Pelajaran Bahasa
Indonesia di TK/SD atau tidak perlu lagi ada pelajaran Olahraga karena
cukup kasih bola atau buatkan selorotan maka anak sudah berolah raga.
Darimana anak TK/SD bisa main game dan berinternetan ?
Bagaimana cara memanfaatkan TIK dengan baik dan benar ? Bagaimana etika
penggunaan TIK dst… sulit bahkan tidak bisa didapatkan mereka dengan
autodidak.
Pembelajaran abad 21 yang mengarah ke
Literacy Informasi mempersyaratkan untuk berbasiskan ICT/TIK, TIK
sebagai alat bantu guru dalam mengajar dengan TIK sebagai sebuah mata
pelajaran adalah dua hal yang berbeda. Ketika TIK/KKPI bukan lagi
sebagai mata pelajaran maka pekerjaan guru akan bertambah, misalnya saja
ketika guru bahasa Indonesia memberi tugas kepada siswa untuk membuat
laporan deskriptif, disamping mengajarkan teori/materinya tentang bentuk
– bentuk laporan deskriptif, guru juga harus mengajarkan bagaimana cara
mengetik dan membuat laporan tersebut dikomputer, Inilah yang disebut
integratif. Sekarang bagaimana kalau logikanya dibalik, Guru TIK
mengajarkan anak-anak cara mengetik di Pengolah Kata (Word misalnya) dan
sebagai bahannya bisa berupa laporan deskriptif yang dicari siswa di
internet. Singkat kata pelajaran bahasa Indonesia secara keilmuwan juga
tidak diperlukan lagi.
Jika TIK/KKPI dianggap akan memberatkan
pemerintah karena implikasinya pemerintah harus menyediakan sarana dan
prasarananya maka terkesan pemerintah ingin lepas dari tanggungjawab
karena kemanakah anggaran pendidikan yang 20% itu. Padahal jiga
logikanya dibalik, karena adanya matapelajaran TIK beberapa tahun
terakhir sebagai stimulus bahkan membawa revolusi didalam dunia
pendidikan dan pembelajaran, maka TIK akan tetap dipertahankan dan
pemerintah akan menganggarkannya, terlebih TIK menjadi persyaratan
pergaulan di abad 21 ini, sehinga untuk mengejar ketertinggalan TIK akan
dikedepankan tidak hanya sebagai media pembelajaran tetapi sebagai mata
pelajaran seperti tercantum dalam Peraturan Pemerintah No 19.
Dengan adanya TIK sebagai mata pelajaran
maka pemerintah secara tidak langsung akan dipaksa untuk membangun
infrastruktur listrik dan mengalirkannya hingga pedesaan. Dengan
demikian Indonesia akan maju semakin pesat.
Tahukah anda alasan sesungguhnya dibalik
RAIBnya TIK dari Kurikulum 2013? Kami mencoba menelusuri Draft
Kurikulum 2013 versi terkini (Maret 2013), salah satunya adalah terdapat
mata pelajaran prakarya dan lintas peminatan. Ada tambahan beban
belajar bagi siswa dan hal tersebut berakibat harus ada mata pelajaran
yang dihilangkan. Satu-satunya mata pelajaran yang tingkat resistensinya
paling rendah jika harus dihilangkan atau dihapuskan adalah “TIK/KKPI”,
Mengapa ?
TIK/KKPI adalah mata pelajaran paling
muda dalam struktur kurikulum 2006 (KTSP), sehingga jika “dibunuh”
dampaknya tidak akan terlalu besar (kalau yang dihilangkan
sejarah/olahraga/lainnya tentu tidak akan berani) mengingat jumlah guru
TIK/KKPI murni hanya berkisar 15%, sedangkan 85% sisanya akan
dikembalikan ke mata pelajaran induk. Namun terfikirkankah mengapa guru
Fisika mengajar mata pelajaran TIK, mungkin sebagian karena tidak adanya
guru TIK, namun tidak sedikit pula dikarenakan gurunya berlebih
sehingga jika harus balik ke mata pelajaran induk akan menjadi masalah
baru. Meskipun akan ada revisi terhadap PP 74 mengenai beban kerja guru,
tapi kita tidak tau seperti apakah revisinya.
Disisi lain, hilangnya TIK/KKPI dari
kurikulum 2013 tidak hanya akan “membunuh” secara perlahan mata
pelajaran TIK (kelas 8,9,11,12 masih ada TIK), akan tetapi akan “membunuh”
calon-calon guru TIK yang saat ini sedang dididik di berbagai
LPTK(Perguruan Tinggi) yang saat ini membuka Jurusan tersebut.
Calon-calon guru TIK ini belum sempat dilahirkan oleh LPTK sudah
terancam akan “di aborsi” masal.
Dalam Kurikulum 2013 khususnya di
SMA/SMK terdapat peminatan IPA, IPS, Bahasa. Mengapa tidak diberikan
peluang ada peminatan TIK, karena tidak sedikit siswa yang ketika lulus
dari SMA/SMK langsung bekerja di bidang yang memerlukan penguasaan TIK,
dan tidak sedikit pula yang melanjutkan ke perguruan tinggi dengan
mengambil jurusan komputer dan informatika atau sejenisnya. Mengapa
pemerintah tak memikirkan akan hal ini?
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com
Mendikbud Tantang Pengkriktik Kurikulum 2013 Untuk Berdebat
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M
Nuh mengungkapkan pelaksanaan kurikulum 2013 akan dilakukan secara
bertahap dan terbatas. Jika ada yang mengkritisi kurikulum tersebut, ia
mengaku siap melakukan debat akademik. (Kamis, 16 Mei 2013 di Metrotvnews.com).
Sebagai guru yang ikut mengkritisi
kurikulum 2013 saya sangat menyambut baik ajakan debat secara akademik
ini. Saya secara pribadi siap diundang untuk melakukan debat secara
akademik dengan pak mendikbud. Sebab menurut saya, kurikulum 2013 belum
tepat diterapkan saat ini. Tundalah dahulu sampai semua perangkat
kurikulum siap. Termasuk kesiapan guru dalam melaksanakan kurikulum
2013.
Dalam blog saya di http://wijayalabs.com,
dengan tegas saya menolak kurikulum 2013. Di blog pribadi itu dan juga
di kompasiana ini saya sudah menjelaskannya panjang lebar kenapa saya
menolak kurikum 2013 ini yang menurut Prof. Dr. Tilaar tidak ada dalam
rencana kerja strategis kemendibud.
Selain itu, kurikulum ini juga banyak
ditentang oleh para anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) komisi X. Baik
dari sisi anggaran maupun isi kontennya. Pemerintah dalam hal ini
kemendikbud selalu berubah-ubah dalam memberikan perencanaan anggaran
kurikulum 2013. Juga proses sosialisasi yang terkesan dipaksakan dan
belum merata di seluruh Indonesia.
Di tingkat perguruan tinggi, banyak guru
besar dan dosen yang juga ikut mengkritisi kurikulum 2013 ini secara
akademik. Kita bisa baca tulisan Prof Acep Iwan Saidi, Prof Iwan
Pranoto, dan guru besar lainnya. Kurikulum 2013 ini sebaiknya
disosialisasikan secara merata ke seluruh Indonesia. Kenyataannya, masih
banyak guru yang belum tahu dan memahami kurikulum 2013. Padahal guru
adalah pemain inti dalam kurikulum. Tak salah bila media televisi
mengangkatnya dalam tajuk kurikulum “simsalabim” di RCTI.
Media sudah banyak menuliskan tentang
kekurangan kurikulum ini, namun pemerintah nampaknya sulit sekali
mendengarkan para praktisi dan pakar pendidikan bicara. Terus terang
kami sangat menyambut baik tantangan pak Mendikbud, M. Nuh untuk
melakukan debat secara akademik.
Mari kita duduk satu meja untuk saling
memberikan masukan dan bukan menjatuhkan. Semua itu tentu untuk kemajuan
dunia pendidikan kita.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar